Memanusiakan Manusia, Untuk Apa ?
Humanisme hanyalah sekadar slogan yang didengung-dengungkan untuk menyenangkan hati masyarakat yang katanya peduli pada kemanusiaan namun tanpa mengerti kenapa mereka harus peduli pada kemanusiaan.
Jika kita bertanya, apa itu yang dimaksud dengan manusia dan apa makna kemanusiaan itu bagi mereka, mungkin hanya sebagian orang yang memahami. Terkadang orang yang bergabung dalam kelompok atau komunitas yang mengatasnamakan mereka sebagai pelindung masihlah sekadar sebagai pengikut yang bahkan belum mengerti kenapa mereka masuk kedalam kelompok atau komunitas terrsebut.
Keterlibatan untuk masuk ke dalam bisa jadi karena popularitas dari kelompok atau komunitas, tetapi bisa juga ingin dianggap sebagai orang yang berbeda karena ingin mencitrakan diri.
Sebelum pembahasan kita lebih jauh, kita harus telaah dan pahami makna tentang kemanusiaan. Kemanusiaan dan humanisme apakah memiliki makna yang sama? Kemanusiaan itu muncul atas dasar apa? Ketika rasa kemanusiaan itu berkurang bahkan hilang, akankah terjadi masalah?
Bagaimana mungkin kemanusiaan memunculkan krisis, konflik, maupun perselisihan? Untuk itu, kita akan membahas pokok permasalahan dari setiap pertanyaan di atas tanpa mengurangi makna sebenarnya.
Pembahasan ini tidaklah mudah, mari semakin membuka diri dan pemikiran agar jangan terjadi kesalahpahaman dalam penerimaan informasi sehingga pemahaman dan pengetahuan terkait kemanusiaan yang selalu kita ucapkan dan dengar sehari-hari memiliki makna mendalam bagi pribadi kita.
Menurut KBBI, manusia adalah makhluk yang berakal budi (mampu mengusai makhluk lain), sedangkan kemanusiaan mengarah kepada sifat-sifat manusia atau arti lain secara manusia. Humanisme menurut KBBI diartikan sebagai ajaran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik atau bisa juga sebagai paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting.
Esensi yang disampaikan kedua kata baik kemanusiaan dan humanisme memiliki hubungan atau keterikatan yang sama di mana kemanusian mengarah kepada sifat manusia sedangkan humanisme menunjukan paham atau ilmu tentang manusia. Pemaknaan kemanusiaan dan humanisme tidak boleh terpisah, agar tidak terjadi salah tafsir bagi orang yang menerima informasi terkait apa yang telah kita sampaikan.
Kemanusiaan telah ada dalam diri setiap manusia sejak manusia diciptakan dan di saat manusia itu dilahirkan kedunia. Kemanusiaan merupakan sifat hakiki yang tertanam pada hati setiap orang, tanpa harus dibentuk atau dilatih.
Mentalitas, keimanaan, dan bahkan moralitas akan mampu menguatkan kemanusiaan karena ketiga sikap tersebut merupakan tahapan yang melahirkan kemanusiaan yang mendasar pada diri manusia. Mentalitas, keimanan dan moralitas yang belum terasah dengan baik dan benar, tentunya tidak akan memunculkan kemanusiaan bagi individunya.
Akhirnya ketika itu terjadi, kemanusiaan hanyalah sekadar omong kosong tanpa makna. Rasa kemanusiaan didasarkan pada pengetahuan untuk mengetahui kebenaran hidup sesungguhnya. Pengetahuan haruslah menjadi sikap kritis sebagai manusia untuk terus mencari tahu tentang kebenaran yang ada di sekitar sehingga terpenuhi kebutuhan dasar akal dan fisik.
Disampaikan, manusia merupakan pribadi yang selalu haus dan lapar akan ilmu pengetahuan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dengan suatu yang baru. Untuk itu, sebagai manusia kita juga harus memahami pengetahuan kebenaran hidup sesungguhnya terkait kemanusiaan. Memangnya kebenaran hidup sesungguhnya yang kita bicarakan di sini mengarah ke mana?
Yang pertama, kebenaran hidup sesungguhnya membahas terkait dasar pengetahuan hidup manusia yang sebenarnya. Yang kedua, mengarah pada agama yang benar (sesungguhnya) di mana manusia harusnya memiliki pedoman atau kepercayaan hanya pada agama yang satu tanpa ada kepercayaan lain.
Sedangkan yang terakhir, kebenaran hidup sesungguhnya berbicara terkait misi manusia di dunia sesuai penciptaan Yang Ilahi, karena penciptaan manusia ke dunia dilakukan Yang Ilahi bukan tanpa tujuan, ada tugas dan target yang mestinya dicapai manusia sebagi ciptaan yang mempunyai akal dan pengetahuan.
Semakin minimnya pengetahuan konkrit manusia menggenai kebenaran hidup sesungguhnya akan mengurangi harga diri manusia sebagai ciptaan di hadapan Penciptanya. Penyimpangan manusia atas kebenaran hidup sesungguhnya akan memaksa mereka mengikuti pedoman-pedoman hidup buatan manusia.
Penafsiran tanpa dasar dan konsep buatan akan mengakibatkan manusia seperti men-Tuhankan apa yang mereka cipta sehingga manusia akan beranggapan mereka sama dengan Yang Ilahi. Manusia yang menjalani hidup dengan berpedoman pada konsep-konsep buatan manusia menjadi cikal bakal timbulnya permasalahan hidup serta konsekusensi yang diakibatkan terjadinya krisis kemanusiaan.
Semakin banyaknya penyimpangan-penyimpangan dilakukan manusia yang tidak mengikuti jalan kebenaran hidup sesungguhnya berdasar pemahaman penciptaan manusia menurut Penciptanya akan melemahkan kemampuan manusia akan dirinya sehingga prinsip awal yang dipegang akan roboh. Manusia akan mulai menjalani konsep buatan manusia yang berimplikasi terjadinya degradasi kemanusiaan di dunia.
Degradasi kemanusiaan ditandai dengan munculnya berbagai polemik yang menyasar pada berbagai konsep bidang kehidupan manusia. Konsep Bidang yang mengalami polemik akibat degradasi kemanusiaan ada begitu banyak, namun yang begitu nyata terlihat di kehidupan kita sehari-hari dan yang akan menjadi pembahasan difokuskan pada empat konsep saja.
Konsep agama merupakan salah satu yang paling rentan dan resisten untuk munculnya berbagai polemik dan konflik akibat kesalahpahaman antara manusia. Kurang pahamnya manusia akan agama dan keinginantahuan yang tinggi membuat manusia melakukan penafsiran-penafsiran akan suatu agama yang bukan kepercayaannya.
Penafsiran yang tidak menemui ujung dan jawaban tentang agama berimplikasi, terlahirnya konsep agama yang baru. Seperti halnya manusia yang tidak mau disalahkan, konsep agama yang dipercayai selalu dianggap paling benar serta tidak memiliki kekurangan.
Orang yang mengusik suatu agama, mereka anggap sebagai musuh. Sikap yang ingin benar dan menang sendiri ini berakibat munculnya permusuhan terhadap agama lain yang dianggap sesat. Penganut Agama senang berdalih, kebenaran sesungguhnya hanya berasal dari satu agama dan apa pun dilakukan demi membela agama bahkan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan terhadap orang lain.
Namun jika kita pahami, jika kita sudah mengetahui agama mengajarkan kebenaran dan Tuhan juga mengajarkan untuk melakukan hal yang baik, haruskah manusia itu menjadi pembela kebenaran akan suatu Agama dan Tuhan? Bukankah seharusnya kebenaran itu selalu berada di pihak kita tanpa dibela sekalipun karena kebenaran sebenarnya yang akan membela kita manusia.
“Uang dapat mengatur segalanya”, jika kita mendengar kalimat tersebut dan disesuaikan dengan zaman sekarang itu bukanlah suatu kebohongan. Malah itu kebenaran sesungguhnya yang dipahami sebagian besar manusia di dunia, bahkan manusia seperti menghamba pada uang serta rela melakukan apa saja demi secarik kertas ini.
Berbicara uang berarti bicara tentang ekonomi, karena konsep ekonomi yang akan kita bahas kali ini. Manusia beranggapan, dengan ekonomi yang tinggi bahkan perdamaian serta kebahagiaan manusia dapat dicapai. Jadi jangan pernah pandang sebelah mata konsep ekonomi ini ya, kebahagiaan saja bisa dibeli apalagi yang lain.
Mari kita telusuri konsep ekonomi, bunyinya kira-kira seperti ini: “dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”.
Sebenarnya gak ada yang salah dengan slogan tersebut, namun benarkah cara untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya itu menggunakan cara yang elegan. Kembali lagi ke manusianya, haruskah mencapai tujuan melalui kebohongan, perampasan, korupsi dan bahkan memunculkan penjajahan serta perang ekonomi antar Negara.
Benarkah hak asasi manusia hanya sekadar kata-kata penenang agar kita tidak terlalu banyak menuntut kepada penguasa dan pembuat hukum. Aturan disusun sedemikian rupa sesuai keinginan penguasa agar mereka bebas sebebasnya meraup keuntungan. Begitulah, terkadang konsep hukum-kekuasaan dibuat bukan untuk membenarkan yang benar namun sebaliknya membenarkan yang salah bahkan menyalahkan yang benar.
Kita melihat konsep hukum seperti tumpul ke atas namun tajam ke bawah, siapa yang memiliki kuasa dia yang mengatur di bawahnya walaupun harus dengan penindasan. Saling kuasa menguasai manusia bukan hal tabu karena sudah ada hukum yang menjaga mereka. Kemanusiaan di mata hukum-kekuasaan layaknya surat obligasi yang dapat diperjualbelikan, yang terpenting tujuan tercapai.
Diperlukan alat untuk mencapai suatu tujuan untuk menguatkan posisi manusia, untuk itu lahirlah konsep politik. Politik diibaratkan mekanisme mencapai tujuan secara praktis dengan manuver atau siasat yang disusun sedemikian apik demi kepentingan segelintir orang.
Politik terkadang membuat fakta seperti hanya sekedar guyonan tanpa makna, yang terutama dalam politik adalah manusia harus memiliki kemampuan jejak pendapat yang hebat di mata masyarakat, tidak peduli yang disampaikan kebenaran atau kebohongan terpenting kemenangan tercapai.
Politik memang tidak selalu jahat, namun beberapa pihak menggunakan kesempatan itu mendongkrak citra. Kebohongan publik di hadapan masyarakat itu bisa dibilang hanya bumbu-bumbu yang membuat politik makin menyenangkan.
Implikasi dari penyalahgunaan konsep politik akan memunculkan adu domba antara saingan politik, serta memicu suatu konflik antar agama, ras, golongan dan etnis bahkan mengakibatkan peperangan di dalam Negara maupun sesama Negara.
Polemik-polemik di atas akan semakin terlihat nyata ketika memang kita selalu menghamba pada konsep-konsep hasil ciptaan manusia tersebut. Akhirnya, kita tidak bisa menutup mata melihat timbulnya krisis kemanusiaan yang terjadi hingga pada zaman ini.
Sebagai manusia yang berakal budi, kita harus benar-benar memahami siapa diri kita dan memahami tujuan Yang Ilahi menciptakan kita sehingga membuat kita semakin sadar mengenai pengetahuan kebenaran hidup sesungguhnya sebagai manusia.
Manusia jangan sampai terjebak pemahaman yang salah dan harus selalu bersikap kritis akan segala ilmu pengetahuan. Pengetahuan dan pemahaman yang sesungguhnya mampu menghindarkan manusia dari konflik, terror, maupun perselisihan.
Tulisan ini hanyalah sebagian pembahasan mengenai kemanusiaan yang bisa disampaikan, dan teruslah mencari referensi serta menggali informasi agar semakin mempertajam sikap kritis dan analisa terhadap suatu masalah. Sebagai kalangan Mahasiswa, LSM, pemangku jabatan, serta khalayak umum harus pintar-pintar memilih informasi, mana pemahaman yang salah dan mana pemahaman yang benar.
Melalui pemahaman kebenaran sesungguhnya, kita tidak akan mudah untuk diperbudak suatu konsep yang salah sehingga tidak menimbulkan permasalahan hidup serta krisis kemanusiaan

Komentar
Posting Komentar